Sabtu, 20 Mac 2010

Ukhuwah

Ukhuwah, kalimat ini sering kita dengar diucapkan oleh orang di sekitar kita. Tapi, dalam perakteknya tidaklah semudah dengan mengucapkannya. Ukhuwah merupakan nikmat suci yang menyinari hati per individu yang diridhai Allah Swt. Ia adalah pemberian yang dianugerahkan oleh Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang kepada hambanya yang benar-benar beriman dan ikhlas. Oleh kerana itu, ukhuwah filâh merupakan sifat yang mengiringi keimanan seseorang.
Ukhuwah juga tidak bisa kita peroleh atau diwarisi tanpa memenuhi syarat-syarat tertentu. Abdullah Nasih al-Ulwan di dalam kitabnya "Al-Ukhuwâh al-Islâmiyah" menjelaskan; bahwa ada beberapa syarat-syarat tertentu yang harus kita miliki agar ukhuwah yang kita jalani diterima oleh Allah Swt:

1.Hendaklah berukhuwah; ikhlas dikarenakan Allah Swt. semata.
Seseorang yang berukhuwah dengan misi pribadinya untuk memperoleh atau mengambil manfaat dari satu golongan, jikalau perbuatan tersebut dilakukan tanpa ada niat (ikhlas) karena Allah Swt. semata, maka perbuatannya tersebut akan sia-sia. Karena besarnya nilai suatu pekerjaan terletak kepada keikhlasan atau niat si pelakunya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
Artinya: "Dari Amiril Mu'minin Abu Hafsh Umar bin Khattab berkata: aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan itu disertai dengan niat, dan setiap perkara itu tergantung terhadap apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari).
Dari teks hadits ini dapat kita lihat, betapa pentingnya nilai niat (keikhlasan) dalam berbuat apapun.

2. Hendaklah ukhuwah itu dibarengi dengan iman dan taqwa kepada
Allah Swt.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt:
Artinya: “sesungguhnya orang yang beriman adalah bersaudara.”

3. Hendaklah berukhuwah sesuai dengan konsep Islam
Persaudaraan yang kita inginkan tidak akan terbina dengan baik, kalau metode atau konsep yang digunakan tidak sesuai dengan yang dikehendaki Islam. Untuk ini kita harus melihat, bagaimana ukhuwah yang telah dicontohkan oleh para Sahabat dan Rasulullah Saw. Karena mereka adalah merupakan suritauladan yang baik bagi kita semua, terutama Rasulullah Saw. dalam berinteraksi dengan yang lainnya.

4. Hendaklah orang yang berukhuwah saling tolong-menolong dikala senang ataupun susah
Lirik nyanyian "memang mudah mencari teman di meja makan, dan sangat sedikit sekali teman yang mau diajak bersedih dikala kita lagi kesedihan". Allah Swt. telah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong dalam kebaikan, dan melarang bekerjasama dalam berbuat dosa dan permusuhan. Sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Maidah :
Artinya: saling tolong menolonglah kamu dalam hal kebaikan, dan janganlah saling tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. (QS. al-Maidah:2).
Hal ini juga tidak bisa terwujud dengan baik, kalau tidak adanya kerja sama antar sesama kita yang berukhuwah. Karena suatu pekerjaan yang berat sangat sulit kita laksanakan kalau dikerjakan sendirian. Tapi, kalau pekerjaan yang berat itu kita laksanakan dengan kerjasama yang baik, insya Allah terasa ringan. Seperti satu batang lidi, tidak akan bisa membersihkan debu dilantai. Tapi, kalau puluhan lidi kita ikat menjadi satu, insya Allah debu yang melekat di lantai akan bisa dibersihkan dengan cepat. Begitu jugalah halnya berukhuwah.
Timbul pertanyaan di benak kita, kenapa sih kita harus berukhuwah? Menurut Syeikh Muhammad Hussein Ya'qub, ada beberapa alasan kenapa kita dianjurkan untuk berukhuwah, diantaranya adalah:
-Untuk membangun atau menegakkan eksistensi umat Islam.
Islam merupakan rahmatan lil'alamîn, yang dulunya merubah suatu kebudayaan yang tidak baik (Jahiliyyah) hingga menjadi terarah. Pada era globalisasi sekarang ini, umat Islam sering menjadi sasaran pelaku teroris dan lain sebagainya. Ini hanyalah merupakan alasan mereka (Zionis) yang tidak suka pada Islam. Kalau kita sebagai orang Islam sendiri tidak bisa memupuk persaudaraan dengan baik, maka bagaimana eksistensi Islam akan diakui oleh agama lain.
-Untuk melihat kekurangan yang ada, dengan cara bercermin diri kepada saudara yang lain.
Seorang mukmin adalah merupakan cerminan dari mukmin yang lainnya. Oleh karena itu, seandainya melihat saudara kita melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan kerugian atau menyakitkan yang lainnya, maka hendaklah kita menasehatinya agar ia dapat menyadari perbuatannya yang salah. Sebab nasehat itu bak cermin yang mengingatkan kondisi dirinya secara jujur.
Persaudaraan yang dibina dengan baik berdasarkan syarat-syarat yang telah disebutkan diatas, akan menghasilkan sesuatu yang sangat berharga sekali yaitu:akan merasakan manisnya iman. Wallahu'alam.

*Penulis adalah: Aktifis Ikatan Persauadaraan Qari-Qariah Indonesia (IPQI) Mesir.
[sumber]

Selasa, 16 Mac 2010

kata pendidik kami ~ abuRRuh ( bapa kpd ruh kami )




Guru saya pernah membacakan sepotong sajak arab, dan maknanya saya simpan di dalam ingatan~ di dalam sajak tersebut, ada menyebut, guru juga merupakan ibu bapa kepada murid atau pelajar, dan digelar sebagai abu Ruh...kerana guru ini lah memberikan makanan ruh dengan mencurahkan ilmu mereka kepada penuntut ilmu mereka...maka mereka layaknya di gelar ibu bapa kita dari segi rohani diri kita~ maka,tak salah mereka digelarkan sebagai ibu bapa kita~
buat insan-insan yang telah mendidik ku sedari kecil hingga dewasa kini terutamanya abah dan ummi, ketahuilah, natijah yang kami dapat kini adalah dari berkat usaha kalian... jazakumuLLAHU khairan jaza'.....smoga ALLAH SENTIASA MERAHMATI KALIAN di Dunia dan Akhirat sana~ amiin...


________________

TAHNIAH BUAT MURIDKU


ALHAMD ULILLAH, BARU - BARU INI APABILA KEPUTUSAN SPM DAN STAM KELUAR, PELAJAR MAAHAD AR RAHMAH AGAK MEMBERANGSANGKAN DAN SETERUSNYA DAPAT MENAI K KAN IMEJ SEKOLAH. MEMANG CITA - CITA SAYA NAK BUKTIKAN BAHAWA SEKOLAH YANG DISISIHKAN OLEH KERAJAAN BN MAMPU BERSAING DIPERSADA SEKTOR PENDIDIKAN ARUS PERDANA. BAK KATA PERPATAH BERDIRI SAMA TINGGI DUDUK SAMA RENDAH.
SPM ADA 10A, 9A, 8A, 7A, 6A, 5A, 3A, 2A, 1A. DENGAN JUMLAH CALON SERAMAI 24 ORANG SAHAJA. STAM 23 CALON, 6 DAPAT MUMTAZ. INSYAALLAH SEDANG BERBINCANG UNTUK HANTAR KE UNV. AL AZHAR MESIR.
SAYA DAH BERPESAN DARI AWAL LAGI, KEJAYAAN AKAN KITA PEROLEHI DI MANA SAJA KITA BELAJAR SEKIRANYA ADA KESUNGGUHAN, BUKAN FAKTOR FIZIKAL SEKOLAH. CUMA PERLU DIINGATKAN KEPADA SEMUA ANAK DIDIK MAAHAD AR RAHMAH BAHAWA PERJALANAN KALIAN MASIH JAUH, MAKA BERDAYUNGLAH SELAGI MILIKI KUDRAT. JANGAN LUPA ASAL USULMU, MATLAMAT PEMUSAFIRANMU ADALAH MENCARI KEREDAAN ILAHI DAN MEMBANTU AGAMA TUHANMU. TUMBANGKAN AJARAN DAN FAHAMAN BERHALA - BERHALA HIDUP YANG MENYESATKAN INSAN.

Label:


http://kbsn26melaka.blogspot.com/2010/03/tahniah-buat-muridku.html



_______________________________


pesanan guruku kt FB ni : "apepn korang kna ingt lgkh n pjlnn korang sume msh jauh bliku,byk lg cbrn yg akn mndtg...hrp korang sume trs usaha smpi ke puncak jaya yg hakiki....& yg plg pntg jgn skali2 lupe asal usul kejayaan kito,br idup n kjyaan kite tu d berkati dunia n akhirat,i'allah"....


Salam... kpd anak didik saya, doa dari kami guru-guru untuk kamu semua bahagia selamnya :) jazakumullah

____________________________


~TAHNIAH SAHABAT~




[perjuangan tidak berakhir di sini, masih jauh lagi perjalanan yang harus ditempuhi, smoga najah, dan najah yang dikejar sebenarnya ialah menjejak kaki ke syurga nanti~ ]

Rabu, 3 Mac 2010

Rancangan Adik-Adikku Sudah Pun Bermula!


__________________________________


Assalamualaikum w.b.t.!


Sidang  Media Adik-Adikku bersama Ketua Pengarah JAKIM

Sidang Media Adik-Adikku bersama Ketua Pengarah JAKIM

Akhirnya program realiti TV untuk mencari bakat-bakat si cilik dalam berdakwah telah dilancarkan! Saksikan di TV1, setiap Isnin-Jumaat pada jam 630ptg-700ptg!

Revolusi dunia hiburan, pendidikan dan dakwah kini bermula! Jangan terlepas dalam memberikan sokongan kepada mereka!

ADIK-ADIKKU INSYAALLAH BOLEH!

[sumber]


_______________________________

saya: 6.53 PETANG tadi, dari dapur, saya menuju ke bilik tidur dengan melalui ruang tamu rumah..melihat televisyen yang masih terbuka menyiarkan sebuah rancangan yang baru agaknya, saya berhenti sebentar di ruangan itu untuk melihat rancangan tersebut....macam menarik!~ seorang kanak-kanak sedang berucap agaknya, atau mungkin sedang bercerita mengenai Islam, yang pasti lagak,gaya dan aksinya sangat menarik!..terdengar bacaan ayat suci Al-Quran yang lancar dan merdu dari bibir kanak-kanak tersebut, membuatkan saya semakin tertarik untuk meneruskan melihat rancangan tersebut sehingga habis bersama adik saya yang ketika itu juga sedang menonton rancangan tersebut..saya kagum melihat adik Amin Al-Hadi menyampaikan persempabahannya yang pada saya lain dari yang biasa bagi seorang kanak-kanak seperti beliau, persembahan beliau yang berkaitan solat seingat saya, lengkap dengan bacaan dalil ayat Al-Quran yang indah, laungan azan dan gurindam ...rancangan yang lain dari yang lain, sangat best dan menarik minat saya untuk menonton episod atau siaran seterusnya..maka saya pon seacrh di enjin pencarian google untuk mengetahui mengenai rancangan ini..oh! rupa-rupanya, tajuk rancangan tersebut ialah "Rancangan Adik-Adikku"

Disiarkan pada pukul 6.30-7 petang,

setiap isnin-jumaat,

program realiti tv untuk mencari bakat-bakat kanak-kanak dalam berdakwah..

...pastinya mendatangkan manfaat, insya'ALLAH, daripada menonton program realiti tv yang sekadar hiburan yang lagha, tak elok dilihat,sakit mata menonton!,mengajar cara-cara pakaian yang mendedah aurat dan pergaulan bebas dan sebagainya!

pastinya menonton "Rancangan Adik-Adikku" tv1 lebih bermanfaat dari melihat siaran realiti tv seperti 'Idola Kecil tv9<>


Jom try tengok rancangan ni :)

> dalam waktu yang sama, Geng Bahasa Arab TV9 pon disiarkan~mesti channel tv akan ditukar-tukar untuk menonton kedua-dua siaran yang menarik tersebut...sebelum menonton rancangan berkenaan, pastikan diri kita sudah bersiap untuk menunaikan solat maghrib atau ke suaru@masjid...barulah tidak kelam-kabut untuk menunaikan kewajipan kita nanti!~ :)

yanag baik datang dari ALKHA-LIQ

dan yang lemah itu datang dari MAKHLUQ

(sempat melihat seorang peserta sahaja beraksi, jadi saya memetik kata-kata peserta yang seorang ini iaitu adik Amin al-Hadi semasa mengakhiri persembahan beliau dalam rancangan Adik-Adikku petang tadi :))

Khamis, 25 Februari 2010

Mengingat detik-detik terakhir Rasululah


– Perjalanan dakwah kita masih panjang. Mari mengingat sedikit sirah…untuk melunakkan hati kita yang mungkin telah menjadi keras dengan kemaksiatan yang telah kita lakukan (nau’dzubillah). Mengingat kembali betapa Rasulullah yang mulia sangat mencintai kita. Sehingga tak layak bagi kita yang tingkat ketaqwaannya jauh dari Rasulullah untuk memikirkan cinta selain pada-Nya dan selain pada Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam. Mari kita mulai kembali perjalanan dakwah ini dengan penuh kerinduan pada Rasulullah dan kebersihan hati serta ketakutan pada pengawasan Allah Yang Maha Menyaksikan –

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang yang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya.

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wa maa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di
luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?

“Allaahumma Shalli wa sallim ‘alaa sayyidinaa Muhammadin Al faatihi lima ughliqa wal khaatimi limaa sabaqa wanaashiril haqqi bil haqqi walhaadii ilaa shiraathal mustaqiimi wa’alaa aalihi wa shahbihi haqqa qadrihi wa miqdaarihil azhiimi…”

“Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW yg membuka apa yang tertutup dan menutup segala yang dahulu, penolong yang hak dengan yg hak dan yg menunjukan kejalan yg benar, dan kepada para keluarga dan sahabatnya hingga pangkat dan kekuasaannya yg besar,amin”

Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu di akhirat

SUMBER




saya: SALAM MAULIDURRASUL SAW...sudah kali ke berapakah kita menyambut kelahiran baginda saw ini? pastikan kita mencintai baginda dan melaksanakan sunnah baginda.. :)

-di dalam kitab sirah nabawiyah karangan Syeikh Ali Mansur menceritakan bahawa Abu Lahab telah menyembelih 100 ekor unta dan menjamu kaum kerabat dan pembesar-pembesar Quraisy di atas kelahiran nabi. Abu Lahab merupakan bapa saudara baginda yang paling gembira sekali di atas kelahiran nabi, walaupun kemudiannya dialah di antara penentang paling kuat baginda.Begitu juga dengan Abu Talib, sangat mencintai nabi saw, menjaga baginda sedari kecil, namun tidak mengkuti sunnah baginda..

maka, seharusnya kita mencintai baginda saw dalam masa yang sama, mengikuti dan mempertahankan sunnah baginda saw, janganlah seperti abu lahab dan abu talib yang hanya mencintai baginda namun tidak mengikuti dan mempertahankan sunnah RasuluLLAH SAW...waLLAHU a'alam :)

Khamis, 11 Februari 2010

Ketulusan Hati

Pagi-pagi, semasa menguruskan urusan di dapur sambil-sambil mendengar suara radio berkumandang maka terlintaslah kalimah ketulusan hati difikiran apabila DJ radio menyebutnye..
"apakah makna ketulusan hati?" tanye DJ radio itu kepada rakan setugasnye..
jawab rakan setugasnye yang keudara pada saat itu, " ketulusan hati itu adalah tahap keikhlasan yang amat-amat tinggi"..
maka DJ itu berkata "apakah ketulusan hati atau keikhlasan ini dapat dilihat, jawabnye,sudah tentu tidak, kerana ikhlas ini hanya dinilai oleh ALLAH SWT, terkadanng mungkin kita boleh menyedari ketulusan hati seseorang itu apabila melihat wajahnya~"

Untuk melihat makna ikhlas ini dari pelbagai definisi, maka saya telah mencarinya di dalam enjin pencarian ;)

Ikhlas ertinya mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala semata dan tidak menginginkan selainnya. Keikhlasan ini merupakan implementasi dari syahadat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ.

Hudzaifah Al-Mar’asyi mengatakan: “Ikhlas adalah keseimbangan antara perbuatan lahiriah dan batiniah seorang hamba.”

Abu Qashim Al-Qusyairi menjelaskan: “Ikhlas adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam ketaatan yang hanya bertujuan untuk-Nya. Yakni dengan ketaatan yang dilakukannya itu, dia ingin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bukan kepada selain-Nya, seperti berbuat karena makhluk, mencari pujian orang, senang mendapatkan pujian, atau segala makna yang tidak untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.”

Abu Muhammad Sahl bin Abdullah rahimahullahu menjelaskan: “Orang-orang berilmu telah melakukan penggalian dalam menafsirkan keikhlasan. Dan mereka tidak menemukan (makna lain) selain: Gerak dan diamnya seseorang, baik ketika sendirian atau bersama orang lain, hanyalah untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, dan tidak dicampuri oleh keinginan hawa nafsu dan dunia.” (Al-Adzkar karya Al-Imam An-Nawawi hal. 5)

Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan:(Ikhlas merupakan lawan syirik. Barangsiapa tidak ikhlas, dia adalah seorang musyrik. Namun kesyirikan itu memiliki tingkatan-tingkatan. Keikhlasan di dalam ketauhidan lawannya adalah kesyirikan di dalam uluhiyyah. Dan kesyirikan itu ada yang tersembunyi dan ada yang nyata. Begitu juga keikhlasan.) (Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 366)

firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ

Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka mengikhlaskan agama untuk Allah yaitu agama yang lurus, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5) [[dipetik dari http://www.bincang.net/forum/showthread.php?t=73114]]

Ulama’ terdahulu membahagikan ikhlas itu kepada dua, berdasarkan matlamat amalan yang dilakukan:

Pertama, ikhlas beramal;
Kedua, ikhlas menuntut pahala.
Ikhlas Beramal :

Maksud ikhlas beramal ialah keikhlasan mengerjakan amalan / ibadat semata-mata untuk mencapai matlamat :

menghampirkan diri dan hati (taqarrub) dengan Allah Taala;
menjunjung tinggi atau mengagungkan perintah Allah Taala;
merelakan atau memperkenankan seruan Allah Taala.
Matlamat-matlamat pencapaian ibadah tersebut adalah selari dengan dorongan ijtihad dan iktikad yang betul dan selaras dengan firmah Allah yang mafhumnya:

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku dan ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan semesta alam. (Surah Al-An'am: 162) Amalan yang dikerjakan secara ikhlas beramal ini kosong daripada niat mengharapkan sesuatu pulangan atau balasan manfaat, sama ada di dunia maupun di akhirat. Malah amalan itu sampai tidak dikehendaki dapat dilihat oleh iblis agar tidak diganggu-gugat atau dirosakkan oleh musuh manusia itu dan tidak juga dikehendaki dapat dilihat dan dicatatkan oleh malaikat. Hendaknya biarlah amalan itu termasuk dalam ilmu Allah sahaja. Inilah darjat ikhlas yang paling tinggi.

Niat ikhlas beramal hendaklah serentak dengan bermulanya amalan yang dikerjakan dan hendaklah berterusan. Tidak termasuk dalam ikhlas beramal, jika niatnya terkemudian atau selepas amalan.

Lawan ikhlas beramal ialah nifaq, iaitu iktikad dan perlakuan orang munafik yang berpura-pura menghampirkan diri kepada Allah tetapi sebanarnya mengaitkan amalannya dengan yang lain daripada Allah. Nifaq itu membatalkan amalan, sekali gus terkeluar jauh daripada lingkungan qurbah dengan Allah Taala.

Ikhlas Menutut Pahala :

Maksud ikhlas menuntut pahala pula ialah mengharapkan pulangan atau manfaat akhirat iaitu pahala untuk menempah hidup bahagia di syurga dan untuk dijauhkan daripada seksaan (azab) di neraka, iaitu sebagai ganjaran daripada amalan ibadat / kebajikan yang dikerjakan. Matlamat ini selari dengan firman Allah yang mafhumnya :

Katakanlah : “Sesungguhnya aku takut , jika aku mendurhakai Tuhanku, akan azab hari yang besar. (al-An’am : 15) Lawan ikhlas menuntut pahala ialah riya’, iaitu mengharapkan manfaat jangka pendek di dunia yang lumrahnya datang daripada manusia atau makhluk Allah yang lain. Riya’ merupakan penyakit kalbu yang merosakkan ikhlas lantas memusnahkan amalan.

Dalam menghuraikan perbezaan di antara dua jenis ikhlas tersebut, Imam al-Ghazali mengatakan : “Ikhlas beramal itu semata-mata menjadikan amalan itu sebagai wahana untuk bertaqarrub dengan Allah Taala dan tidak menuntut sesuatu yang lain. Manakala ikhlas menuntut pahala itu lebih mengharapkan amalan diterima oleh Allah di samping mengingini ganjaran pahalanya.

Para Hawariyyun (pengikut-pengikut nabi 'Isa a.s.) bertanya kepada nabi 'Isa a.s, "Bagaimanakah orang-orang yang ikhlas itu dengan amalan mereka?".

Nabi 'Isa a.s. bersabda, "Mereka beramal kerana Allah dan tidak berhajat kepada pujian daripada manusia".

Membicarakan tentang ikhlas, para ulama mengaitkannya dengan amalan berikut:

1. ibadat zahir (amalan jasmaniyah / khususiyah), seperti sembahyang, puasa, haji, umrah dan sebagainya. Dalam ibadat zahir ini diperlukan kedua-dua jenis ikhlas tersebut (ikhlas beramal dan ikhlas menuntut pahala).
2. ibadah batin (amalan batiniyah), iaitu seperti jujur, amanah, setia, tafwidh dan sebagainya. Tidak timbul soal ikhlas dalam ibadat batin ini, kerana sifatnya sendiri sudah merupakan ciri ikhlas. Tanpa ikhlas tidak wujud sifat jujur, misalnya. Dalam ibadat ini akan timbul nifaq dan riyak apabila pengamalnya mengharapkan manfaat dunia, untuk mendapat pujian, sanjungan dan penghormatan manusia.
3. amalan harus yang dikerjakan untuk membantu kerja ibadat yang lain, khususnya ibadat zahir tersebut. Contohnya, makan, minum, tidur dan sebagainya. Dalam ibadat ini hanya terdapat ikhlas jenis yag kedua sahaja, iaitu ikhlas menuntut pahala.

Menurut Imam al-Gazali: Dalam kebanyakan ibadat ada kaitan dengan kedua-dua jenis ikhlas_ikhlas beramal dan ikhlas menuntut pahala. Ini termasuklah ibadat yang wajib dan sunat. Dalam ibadat yang harus yang dikerjakan untuk membantu ibadat wajib atau sunat, hanya terdapat sejenis ikhlas sahaja, iaitu ikhlas menuntut pahala. Kerana, ibadah yang harus itu bukan bertujuan qurbah , tetapi hanya untuk membantu atau membolehkan ibadah zahir atau amalan khususiyah itu dikerjakan.

Waktu niat ikhlas menuntut pahala boleh terkemudian daripada mengerjakan amalan yang berkenaan. Sebahagian ulama mengatakan, waktunya ialah sebaik-baik sahaja selesai mengerjakan sesuatu amalan. Ketika itulah ditentukan sesuatu amalan itu sama ada dikerjakan dengan ikhlas atau dengan riak. Sebab, riak sewaktu mengerjakan ibadat itu mungkin diubah kepada ikhlas selepas mengerjakan ibadat itu. Keihkhlasan ini diterima selagi matlamat riak belum tercapai. Umpamanya jika kita mengerjakan ibadat untuk mendapat pujian orang (satu contoh riak), selagi kita belum menerima pujian itu, kita boleh menukarkannya kepada ikhlas. Tetapi apabila sudah mendapat pujian (matlamat riak telah tercapai), maka terjatuhlah dalam riak dan sia-sialah ibadat itu.

Darjat ikhlas yang paling rendah :

Di samping ikhlas beramal dan ikhlas menuntut pahala, ada satu lagi jenis ikhlas yang dikatakan paling rendah darjatnya. Ikhlas jenis yang ketiga ini khusus kepada niat mengerjakan amal ibadat untuk keselamatan diri dan keselesaan atau kesenangan hidup di dunia. Contohnya, mengerjakan shalat sunat hajat, shalat sunat istisqa’, membaca doa, ayat-ayat atau surah-surah tertentu dalam al-Qur’an semata-mata untuk mendapat manafaat segera duniawi daripada Allah swt (manfaat yang harus, tidak bercanggah dengan larangan agama, tetapi tidak termasuk matlamat ikhlas beramal dan ikhlas menuntut pahala yang tersebut).

Kesimpulan :

Adalah wajib kita mengerjakan amal ibadat dengan ikhlas dan hendaklah sentiasa sedar, bahawa tergeraknya hati dan anggota kita mengerjakan ibadat itu adalah di bawah taufik dan hidayah Allah Taala. Dengan hal yang demikian, amalan kita, insya Allah, akan diterima dan disempurnakan pahlanya oleh Allah Taala. Sebaliknya, jika kita tidak ikhlas mengerjakan ibadat dan merasakan segala tindak-tanduk mengerjakan amalan yang baik itu adalah berpunca daripada diri kita sendiri, maka kita terjatuh ke dalam riak dan ujub. Riak, ujub dan nifaq itu membinasakan amal ibadat yang berkenaan; sedangkan ikhlas sering menjernihkan kekeruhan segala amalan, menghapuskan ingatan dan keinginan kepada segala kesukaan dan kesenangan (kepentingan nafsu sendiri) dan mengekalkan perhubungan dengan Allah Taala, terutama kalau kikhlasan itu ikhlas beramal. Selain itu ikhlas juga menjadi benteng untuk mempertahankan diri daripada godaan atau tipu daya syaitan. Allah Taala berfirman, maksudnya :

Berkata (Iblis), ya Tuhabnku, oleh sebab Engkau telah memutuskan aku sesat, pasti aku menjadikan mereka memandang baik (terhadap perbuatan maksiat) di muka bumi ini dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali di kalangan hamba-hamba-Mu yang mukhlis (ikhlas) - (al-Hijr : 39 - 40). Juteru, amat besar kerugian yang akan menimpa mereka yang bukan mukhlis dan tidak ikhlas mengerjakan amal ibadat mereka. Virus riyak akan memusnahkan amalan mereka.

[sumber : http://www.tranungkite.net/teladan/teladan248.htm]
________________________________________
__________________________

Setelah meneliti makna-makna dan definisi yang diberikan, maka saya mengambil masa untuk koreksi diri saya berkaitan ikhlas di dalam kehidupan saya selama ini..adakah selama ini saya ikhlas di dalam amal ibadah saya? sedangkan Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan ikhlas lawannya ialah syirik, maka sekiranya saya tidak ikhlas di dalam amal itu, adakah saya tergolong dari kalangan lawan ikhlas itu...wal'iyadzubiLLAH!...semoga cinta kami kepada DIA, TUHAN Sekalian alam ,amal dan gerak kerja kami di dalam perjuangan menegakkan Islam di muka bumi itu adalah tergolong di dalam ketagori ikhlas~amien



(Maaf, Audio kurang memuaskan... )
moga dpaat menghayati lirik-lirik yang ada~;)

Jumaat, 18 Disember 2009

SALAM MA'AL HIJRAH 1431H




Salam Ma'al Hijrah buat semua umat Islam..maka dengan berlalunya tahun 1430 dan terbuka tirai 1431H menandakan bertambah lagi usia kita~ sedar atau tidak bertambah usia tergolong juga dengan bertambahnya tanggungjawab kita~ilmu, yang selama ini ditambah dan dipelajari saban waktu,adakah diamalkan, usia selama ini dititi adakah digunakan sebaiknya, maka dengan ini sewajarnya kita memulakan lembaran baru 1431H lebih baik daripada tahun sebelumnya...semoga kedatangan 1431H membari natijah yang lebih baik untuk kehidupan kita~


Dapatkan Mesej Bergambar di Sini



Buat sahabat-sahabatku dan warga kerja MY SMAC09 yang menjalankan tugas pada hari ini di lokasi MY SMAC09 > Bittaufiqwannajah...N SLAMAT TAHUN BARU

Rabu, 16 Disember 2009

Doa Nabi Yunus as> memang elok diamalkan, terutama ketika nak tunggu natijah imtihan...'-'

Salam'alayk..sekarang ni sudah tentu situasi menunggu result or natijah peperiksaan yang telah dihadapi pada bulan lalu...samada PMRU-STAM atau peksa yang lain.....memang kecut perut bila memikirkan, apaka result/keputusan peperiksaan ku nanti..oh..saat tu baru la ingat Tuhan banyak2~..maka tawakkal menjadi pakaian.. dan maka lagi,saat ni, sesuaila diamalkan doa nabi Yunus..pesan kakak ku sebentar tadi yang mendapati diriku tiada aktiviti yang menarik untuk dilakukan pada ketika itu~meh lihat serba sedikit berkaitan doa ini...doa ini,menurut kata kakak ku itu,sesuai di bace ketika waktu terdesak dan mengharap sangat....

SUMBER diperoleh bahan ini : http://quran.al-shia.org/id/dua-quran/15.htm

Nabi Yunus as adalah salah seorang dari nabi-nabi Ilahi. Beliau as menyeru umat kepada tauhid dan pengesaan Tuhan dalam jangka waktu yang lama. Akan tetapi seruan dan tabligh lama ini tidak memberikan hidayat kepada umat dan mereka berkeras kepala kepada kekafiran. Pada saat inilah nabi Yunus as merasa marah terhadap kebodohan dan kekafiran mereka, sebelum meminta izin kepada Allah swt beliau as telah keluar dari kota tersebut dan menuju ke gurun. Beliau as terus pergi hingga sampai ke laut. Dengan kekuasaan Ilahi seekor ikan besar membuka mulutnya dan menelan nabi Yunus. Nabi Yunus as terpenjara di perut ikan tanpa dikunyah olehnya dan beliau as menyadari ini adalah balasan perbuatan kepada beliau as yang melepaskan tugas tanpa seizin Allah swt.

Dalam persyaratan demikian dengan hati yang patah dan terputus dari harapan dari semua tempat beliau as berdoa dan mengatakan:

لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنّى‏ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمينَ

“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang lalim.”[1]

Allah swt di dalam al-Qur’an berfirman: “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”[2]

Nabi Yunus as yang selamat dari perut ikan dan laut yang dalam, kembali ke tempat yang diperintahkan semula dan umat yang telah sadar semasa kepergian beliau as, mengerumuni beliau as dan memilih jalan suci dan penyembahan kepada Allah swt di depan mereka.

Beberapa Poin Penting

1- Pada akhir kisah nabi Yusuf as Allah swt berfirman:

“وكذلكَ نُنجِى المؤمنين

(Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman). Seakan-akan kisah nabi Yunus as terdapat di dalam al-Qur’an untuk menyatakan hukum universal dan sunnatullah yang abadi ini yaitu: Menyelamatkan kaum Mukminin yang tertimpa musibah adalah sebuah program continyu Allah swt yang berjalan pada setiap masa, tempat dan seluruh generasi.

Sangat jelas bahwa ini adalah berita gembira dan menyenangkan bagi kita semua.

Nabi Islam kita Muhammad saw bersabda: “Apakah kalian ingin aku tunjukkan kepada “ism a’dham Ilahi” (nama agung Allah) yang setiap kali Allah swt diseru dengan nama itu akan memberikan jawaban dan setiap kali dimohonkan dari-Nya dengan nama tersebut akan ditimpali? Itulah doa nabi Yunus as yang beliau baca dalam kegelapan:

لا إِلهَ إلّا أنتَ سُبْحانَكَ إِنِّى‏ كُنْتُ مِنَ الظّالمينَ”

Seseorang bertanya: Wahai Rasulallah! Apakah doa ini khusus untuk nabi Yunus ataukah bagi seluruh kaum Mukminin?

Nabi saw menjawab: Apakah engkau tidak mendengar lanjutan ayatnya:

وَكَذلِكَ نُنْجِى المُؤمِنينَ”.[3]

2- Kaum Urafa’ Ilahi memiliki perhatian luar biasa terhadap doa nabi Yunus as dan menamakannya dengan “Zikir Yunusiyah”.

3- Doa-doa para maksum (orang-orang yang terjaga dari perbuatan dosa) memiliki akan Qur’ani. Karena mereka adalah putera-putera al-Qur’an dan menimba manfaat dari makrifat jernih Qur’ani. Imam Husain as dengan mengutip doa nabi Yunus mengatakan di dalam doa Arafah:

لا إلهَ إلّا أنْتَ سُبْحانَكَ إنّى‏ كُنْتُ مِنَ الظالمينَ. لا إلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى‏ كُنْتُ مَنَ المُسْتَغْفِرينَ. لا إلهَ إلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ إنّى‏ كُنْتُ مِنَ المُوَحِّدينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى‏ كُنْتُ مِنَ الخائِفينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى‏ كُنْتُ مِنَ الوَجِلينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى‏ كُنْتُ مِنَ الرَّاجينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى‏ كُنْتُ مِنَ الرّاغِبينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى‏ كُنْتُ مِنَ المُهَلِّلينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى‏ كُنْتُ مِنَ السّائِلينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى‏ كُنْتُ مِنَ المُسَبِّحينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى‏ كُنْتُ مِنَ المُكَبِّرينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ رَبّى‏ ورَبُّ آبائي الأَوَّلينَ

“Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang meminta pengampunan. Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang meng-Esakan-(Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang khawatir (terhadap azab-Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang takut (kepada-Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berharap (kepada-Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menginginkan(Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang bertahlil (mengucapkan la ilaha illallah [Tiada Tuhan Selain Allah]). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang meminta (kepada-Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang bertasbih (kepada-Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang bertakbir. Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau Tuhanku dan Tuhan ayah-ayahku yang terdahulu.”

Beberapa Hadis Seputar Keutamaan Doa Ini

1- Nabi Islam Muhammad saw bersabda: “Setiap orang Muslim sakit yang membaca doa ini, bila dalam sakitnya (tidak memperoleh kesembuhan dan) meninggal dunia maka akan diberikan pahala orang yang syahid, dan bila mendapatkan kesembuhan dan membaik maka seluruh dosanya diampuni.”[4]

2- Rasulullah saw bersabda: Apakah kalian ingin aku beritahukan tentang sebuah doa yang setiap kali kalian baca dalam setiap kondisi sedih dan bencana maka kelapangan akan diperoleh? Para sahabat menjawab: Ya, Wahai Rasulallah. Beliau saw bersabda: “(Yaitu) doa nabi Yunus as yang menjadi santapan ikan:

لَا اِلهَ اِلَّا اَنْتَ سُبْحَانَکَ اِنِّی کنْت مِنَ الظّالِمِیْنَ”.[5]

3- Imam Shadiq as berkata: “Aku heran terhadap orang yang tertimpa kesedihan, bagaimana tidak membaca doa ini

لَا اِلهَ اِلَّا اَنْتَ سُبْحَانَکَ اِنِّی کنْت مِنَ الظّالِمِیْنَ”,

karena Allah swt selanjutnya berfirman:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَ نجََّيْنَاهُ مِنَ الْغَمّ‏ِ وَ كَذَالِكَ نُنجِى الْمُؤْمِنِين‏”.[6]

4- Almarhum Kulaini menukil: Seseorang berasal dari Khurasan bertemu dengan Imam Shadiq as antara Mekah dan Madinah di Rabadhah dan menyatakan: Semoga aku menjadi taruhan Anda! Hinnga kini aku masih belum dikaruniai anak, apa yang harus aku lakukan?

Imam Shadiq as menjawab: “Ketika engkau kembali ke negerimu dan ingin mendatangi isterimu maka bila engkau menginginkah demikian bacalah ayat:

“وَ ذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى‏ فىِ الظُّلُماَتِ أَن لَّا إِلَاهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنىّ‏ِ كُنتُ مِنَ الظَّلِمِين‏”,

Insya Allah engkau akan dikarunia anak.”[7]


[1]QS. Al-Anbiya’ [21]: 87.

[2] QS. Al-Anbiya’ [21]: 88.

[3] Qawari’ul Qur’an, hal. 67.

[4] Qawari’ul Qur’an, hal. 67.

[5] Tafsir Al-Kasysyaf, jilid 3, hal. 132, catatan kaki.

[6] Al-Khishal, hal.218.

[7] Al-Kafi, jilid 6, hal. 10.




Dapatkan Mesej Bergambar di Sini